LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Status Bencana Nasional Karhutla, Soroti Krisis Iklim

H
Hendra Wijaya
Redaktur Nasional
Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 11.00 WIB•3 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Status Bencana Nasional Karhutla, Soroti Krisis Iklim
Ilustrasi pemanfaatan kecerdasan buatan dan aplikasi produktivitas digital. (Foto: Dok. Istimewa)

Sorotan Utama Berita

  • Mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di berbagai kota menuntut status bencana nasional karhutla.
  • Kebijakan penanganan lingkungan dinilai kontradiktif dengan komitmen internasional dalam mengatasi krisis iklim.
  • Kritik konstruktif disampaikan untuk mengawal pemerintahan agar lebih serius melindungi ekosistem dan kesehatan masyarakat.

SOROT.IN, JAKARTA — Gelombang aksi unjuk rasa kembali menggema di berbagai kota besar di Indonesia. Kali ini, ribuan mahasiswa dari berbagai aliansi turun ke jalan menyuarakan tuntutan agar pemerintah segera menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional. Langkah darurat ini dinilai mendesak mengingat dampak kerusakan lingkungan serta ancaman kesehatan masyarakat yang kian parah akibat kabut asap.

Dalam orasinya, para mahasiswa menyoroti bahwa penanganan karhutla yang dilakukan selama ini masih parsial dan kurang terkoordinasi secara optimal. Mereka mendesak adanya pengerahan sumber daya nasional secara masif, mulai dari alat, personel, hingga anggaran, untuk memadamkan titik api yang terus meluas di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Desakan Kebijakan yang Selaras dengan Komitmen Global

Aksi turun ke jalan ini tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mengkritisi arah kebijakan nasional yang dinilai kontradiktif dengan komitmen internasional dalam mengatasi krisis iklim. Para pengamat hukum lingkungan mencatat bahwa target penurunan emisi sering kali berbenturan dengan izin eksploitasi lahan yang masih longgar diberikan kepada korporasi besar.

Mahasiswa menilai pemerintah harus berani mengambil sikap tegas terhadap perusahaan yang terbukti lalai dan memicu kebakaran hutan. Komitmen Indonesia di kancah global dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan menjaga keanekaragaman hayati harus dibuktikan melalui penegakan hukum yang transparan tanpa kompromi.

Ruang Demokrasi dan Pengawalan Kebijakan Pemerintah

Di tengah dinamika politik nasional, gelombang protes ini juga dilihat sebagai bagian dari kritik konstruktif untuk mengawal jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran. Partisipasi aktif generasi muda melalui aksi damai menunjukkan bahwa fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik masih berjalan dinamis di Indonesia.

Pemerintah diharapkan membuka ruang dialog yang seluas-luasnya dengan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat sipil. Dengan sinergi yang kuat antara negara dan publik, penyelesaian krisis ekologis dan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan di masa depan diyakini akan lebih mudah tercapai.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Apa tuntutan utama mahasiswa dalam aksi demo karhutla di berbagai kota?

Mahasiswa menuntut pemerintah segera menetapkan status bencana nasional untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar penanganannya lebih terpusat dan masif.

Mengapa kebijakan lingkungan pemerintah dinilai kontradiktif?

Kebijakan penanganan dinilai kontradiktif karena komitmen internasional Indonesia dalam menurunkan emisi dan mengatasi krisis iklim kerap berbenturan dengan praktik di lapangan serta izin lahan yang longgar.

TOPIK:#Karhutla#Demonstrasi Mahasiswa#Bencana Nasional#Krisis Iklim#Pemerintahan Prabowo-Gibran
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Status Bencana Nasional Karhutla, Soroti Krisis Iklim | Sorot.in