Kemendikdasmen Kaji Ulang Format Ujian Nasional, Fokus Asesmen Bakat dan Skema Kelulusan Siswa 2026
Sorotan Utama Berita
- Evaluasi format ujian nasional difokuskan pada pemetaan mutu pendidikan daerah tanpa menjadi penentu tunggal kelulusan siswa.
- Pemanfaatan tes terstandarisasi berbasis komputer (CBT) adaptif dengan integrasi portofolio rekam jejak akademik berkala.
- Melibatkan masukan komprehensif dari asosiasi guru, pakar psikologi anak, dan dinas pendidikan provinsi se-Indonesia.
SOROT.IN, JAKARTA — Isu evaluasi pendidikan nasional kembali menjadi diskursus hangat di ruang publik setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar serangkaian uji dengar pendapat terkait format asesmen kompetensi siswa. Pemerintah menegaskan bahwa peninjauan ini bukan sekadar mengembalikan Ujian Nasional dalam format lama, melainkan merancang sistem evaluasi terstandarisasi yang lebih adil, holistik, dan berkeadilan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan bahwa evaluasi terstandarisasi tetap diperlukan agar negara memiliki tolok ukur mutu pendidikan antardaerah yang presisi. Tanpa standar evaluasi yang jelas, disparitas kualitas pembelajaran antara kota-kota besar di Pulau Jawa dengan wilayah kepulauan dan pelosok 3T dikhawatirkan kian melebar tanpa terpetakan secara akurat.
Transformasi Sistem Penilaian: Menimbang Antara Standarisasi dan Kesehatan Mental Siswa
Salah satu sorotan utama dalam format baru yang dirancang adalah pemisahan fungsi antara "evaluasi mutu sistem" dengan "penentu tunggal kelulusan individu". Pada skema terdahulu, beban kelulusan yang hanya ditentukan oleh ujian beberapa hari terbukti memicu kecemasan akademis ekstrem serta maraknya bimbingan belajar instan. Dalam formula yang tengah dimatangkan, kelulusan tetap bertumpu pada penilaian komprehensif oleh satuan pendidikan.
Teknologi computer-based test (CBT) adaptif juga disiapkan agar tingkat kesulitan soal dapat menyesuaikan kemampuan dasar siswa secara bertahap. Dengan pendekatan adaptif, hasil tes tidak hanya memunculkan angka mutlak, melainkan memberikan diagnostik mendalam mengenai bidang kompetensi literasi, numerasi, dan penalaran kritis yang masih perlu ditingkatkan.
Tanggapan Federasi Guru dan Kesiapan Sarana di Daerah 3T
Organisasi profesi guru menyambut baik dibukanya ruang dialog publik ini, namun mengingatkan pemerintah tentang kesenjangan sarana infrastruktur digital. Ribuan sekolah di kawasan tertinggal masih menghadapi keterbatasan perangkat komputer dan stabilitas jaringan internet, sehingga model asesmen apa pun yang ditetapkan harus menyediakan opsi luring (offline) yang setara.
Kemendikdasmen memastikan bahwa penyempurnaan sistem evaluasi ini akan melalui masa sosialisasi dan simulasi berjenjang sebelum diterapkan penuh. Sinergi antara dinas pendidikan daerah, pengawas sekolah, dan komite orang tua menjadi kunci utama agar sistem asesmen baru benar-benar bermuara pada peningkatan kompetensi anak didik di seluruh penjuru Indonesia.
Tanya Jawab Seputar Topik Ini
Apakah format baru ini akan langsung menggantikan Asesmen Nasional?
Kemendikdasmen menyatakan perubahan masih dalam tahap kajian uji publik bersama pemangku kepentingan dan tidak akan diterapkan terburu-buru.
Apakah hasil ujian ini menjadi penentu mutlak kelulusan siswa?
Pemerintah memastikan bahwa kelulusan tetap mempertimbangkan evaluasi menyeluruh dari pihak sekolah dan rekam jejak belajar berkelanjutan.