LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Kebijakan Nasional Dinilai Kontradiktif dengan Komitmen Iklim Internasional

H
Hendra Wijaya
Redaktur Nasional
Rabu, 28 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB•4 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Kebijakan Nasional Dinilai Kontradiktif dengan Komitmen Iklim Internasional
Ilustrasi pemanfaatan konektivitas internet cepat dan ekosistem digital. (Foto: Dok. Istimewa)

Sorotan Utama Berita

  • Kebijakan domestik dinilai belum sepenuhnya selaras dengan komitmen penurunan emisi global.
  • Pemerintah terus berupaya menyeimbangkan insentif fiskal seperti perluasan PPh 21 DTP dengan agenda transisi energi.
  • Kritik konstruktif dari berbagai elemen masyarakat diperlukan untuk mengawal kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.

SOROT.IN, JAKARTA — Isu mengenai arah kebijakan nasional kembali menjadi sorotan tajam setelah sejumlah kalangan pengamat hukum dan lingkungan menilai langkah pemerintah kerap kontradiktif dengan komitmen internasional dalam mengatasi krisis iklim. Di satu sisi, Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk ambil bagian dalam transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon dunia. Namun di sisi lain, implementasi regulasi di dalam negeri masih sering bersandar pada sektor-sektor industri ekstraktif yang menyumbang jejak karbon tinggi demi mengejar target pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Perdebatan ini mencuat di tengah dinamika kebijakan fiskal nasional yang sedang gencar disiapkan oleh pemerintah, termasuk perumusan paket insentif pajak 2027 yang mencakup perluasan PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) ke seluruh sektor serta keberlanjutan PPN DTP untuk sektor perumahan. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus memutar otak untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendongkrak investasi melalui instrumen perpajakan tersebut, meski tantangan integrasi prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam regulasi fiskal masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat.

Dilema Pertumbuhan Ekonomi dan Target Emisi Nol Bersih

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia memegang peran sentral dalam merumuskan strategi makroekonomi yang inklusif namun tetap ramah lingkungan. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengarahkan gelontoran insentif fiskal agar tidak hanya dinikmati oleh sektor konvensional, tetapi juga mampu memicu transformasi hijau yang nyata. Pakar hukum tata negara dan hukum lingkungan menilai bahwa tanpa adanya sanksi tegas dan peta jalan yang konsisten, komitmen internasional seperti Paris Agreement akan sulit diterjemahkan secara optimal ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun regulasi sektoral.

Bagi masyarakat luas, kontradiksi ini berdampak langsung pada kualitas lingkungan hidup sehari-hari, mulai dari ancaman cuaca ekstrem hingga polusi udara di kota-kota besar. Di sisi lain, insentif seperti perluasan PPh 21 DTP sangat dinantikan oleh para pekerja untuk meringankan beban ekonomi di tengah ketidakpastian global. Hal ini menciptakan dilema kebijakan yang menuntut kecermatan tinggi dari para pembuat kebijakan agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak mengorbankan kelestarian ekologis yang menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Mengawal Pemerintahan Melalui Kritik Konstruktif

Menjaga persatuan nasional di bawah kepintahan Prabowo-Gibran harus berjalan seiring dengan kebebasan memberikan kritik yang konstruktif dari masyarakat sipil, akademisi, dan media massa. Pengawalan publik terhadap kebijakan strategis negara menjadi benteng terakhir agar setiap keputusan eksekutif tetap berpihak pada keadilan sosial dan ekologis. Tanpa adanya dialog terbuka antara pemerintah dan pengamat lingkungan, risiko kebijakan yang bias kepentingan jangka pendek akan terus menghantui masa depan transisi energi Indonesia.

Kesimpulannya, pemerintah dituntut untuk menunjukkan konsistensi politik anggaran dan regulasi yang benar-benar memihak pada keselamatan iklim global tanpa mematikan mesin ekonomi domestik. Sinkronisasi antara insentif fiskal yang pro-rakyat dan regulasi lingkungan yang ketat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan mutlak. Keberhasilan kepemimpinan nasional ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana Indonesia mampu keluar dari jebakan dikotomi antara ekonomi dan ekologi menuju pembangunan yang berkelanjutan sejati.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Mengapa kebijakan nasional sering dinilai kontradiktif dengan komitmen iklim internasional?

Karena regulasi domestik dan insentif ekonomi kerap masih berfokus pada industri ekstraktif yang tinggi emisi, sementara di panggung global Indonesia berkomitmen menurunkan emisi karbon.

Apa peran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam isu ini?

Kemenko Perekonomian bertanggung jawab merumuskan kebijakan fiskal dan strategis, termasuk paket insentif pajak, yang harus menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan prinsip pembangunan berkelanjutan.

TOPIK:#Krisis Iklim#Kebijakan Pemerintah#Insentif Pajak#Transisi Energi#Ekonomi Indonesia
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Kebijakan Nasional Dinilai Kontradiktif dengan Komitmen Iklim Internasional | Sorot.in