LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Pilkada Lewat DPRD Ramai Dibahas, Peneliti Tegaskan Masalahnya Ada di Partai

D
Dimas Prasetyo
Redaktur Politik & Kebijakan
Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB•3 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Pilkada Lewat DPRD Ramai Dibahas, Peneliti Tegaskan Masalahnya Ada di Partai
Dokumentasi peliputan terkait Pilkada Lewat DPRD Ramai Dibahas, Peneliti Tegaskan Masalahnya Ada di Partai. (Foto: Wikimedia Commons)

Sorotan Utama Berita

  • Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD menuai perdebatan hangat di kalangan pengamat politik dan publik.
  • Peneliti menegaskan bahwa akar masalah tata kelola pemilu berada pada integritas partai politik dan aktor di dalamnya.
  • Perubahan sistem dikhawatirkan tidak akan menyelesaikan masalah mendasar jika mentalitas elite partai tidak dibenahi.

SOROT.IN, JAKARTA — Perdebatan mengenai masa depan demokrasi lokal di Indonesia kembali memanas setelah wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mencuat ke permukaan publik. Sejumlah pihak berpendapat bahwa sistem pemilihan langsung yang berjalan selama ini memicu biaya politik yang terlalu tinggi bagi para kandidat kepala daerah. Namun, gagasan untuk mengembalikan hak pilih kepala daerah ke tangan anggota dewan langsung mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi dan peneliti politik nasional.

Menanggapi dinamika tersebut, para peneliti menegaskan bahwa mengubah sistem pemilihan dari langsung menjadi lewat DPRD bukanlah solusi yang mujarab untuk mengatasi berbagai kelemahan struktural demokrasi. Menurut pandangan kritis dari lembaga riset kepemiluan, substansi persoalan yang sebenarnya terletak pada buruknya pelembagaan partai politik serta rendahnya transparansi rekrutmen kader di internal partai itu sendiri.

Akar Masalah Ada di Partai Politik dan Aktor

Persoalan utama dalam kontestasi politik di Indonesia sering kali bermuara pada mahar politik dan orientasi transaksional yang digerakkan oleh para elite partai. Ketika sistem pemilihan diubah tanpa membenahi integritas partai politik dan para aktor di dalamnya, praktik korupsi dan politik uang dikhawatirkan hanya akan berpindah arena dari ruang publik terbuka ke ruang-ruang tertutup gedung legislatif. Oleh karena itu, reformasi internal partai menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Publik di berbagai daerah kini mulai bersuara dan mengawasi jalannya diskursus politik ini secara seksama. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa Pilkada melalui DPRD kerap kali menjauhkan kepala daerah dari legitimasi kuat rakyat secara langsung, yang pada akhirnya membuat akuntabilitas pemerintahan daerah kepada warga menjadi melemah. Masyarakat mendesak agar para pembuat kebijakan lebih fokus mengevaluasi penegakan hukum pemilu daripada merombak sistem dasar.

Tantangan Demokrasi dan Masa Depan Otonomi Daerah

Dampak jangka panjang dari perdebatan sistem pemilu ini sangat krusial bagi masa depan otonomi daerah di tanah air. Setiap keputusan politik yang diambil oleh parlemen pusat akan langsung dirasakan oleh jutaan warga negara yang mendambakan pelayanan publik yang bersih dan transparan. Pengamat mengingatkan agar para elite tidak menggunakan isu perubahan sistem semata-mata sebagai strategi pragmatis untuk kepentingan kekuasaan jangka pendek.

Sebagai penutup, pembenahan sistem politik di Indonesia memerlukan komitmen kolektif yang jujur dari seluruh pemangku kepentingan. Alih-alih sibuk memperdebatkan siapa yang berhak memilih kepala daerah, energi bangsa ini seharusnya diarahkan untuk memperkuat pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, menegakkan aturan dana kampanye, serta memastikan partai politik benar-benar berfungsi sebagai sarana pendidikan politik yang bersih bagi rakyat.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Mengapa wacana Pilkada oleh DPRD kembali mencuat?

Wacana ini kembali mencuat karena tingginya biaya politik (high cost politics) dalam pemilihan langsung yang dinilai membebani para kandidat dan memicu praktik korupsi.

Apa solusi utama yang disarankan oleh para peneliti terkait sistem Pilkada?

Peneliti menyarankan agar fokus perbaikan diarahkan pada reformasi internal partai politik dan integritas para aktornya, bukan dengan mengubah sistem pemilihannya.

TOPIK:#Pilkada DPRD#Partai Politik#Politik Indonesia#Revisi UU Pemilu
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Pilkada Lewat DPRD Ramai Dibahas, Peneliti Tegaskan Masalahnya Ada di Partai | Sorot.in