LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Menakar Kekuatan Politik Jokowi di Parlemen: Sisa Pengaruh dan Peta Koalisi

D
Dimas Prasetyo
Redaktur Politik & Kebijakan
Rabu, 28 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB•3 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Menakar Kekuatan Politik Jokowi di Parlemen: Sisa Pengaruh dan Peta Koalisi
Ilustrasi penegakan hukum dan kepatuhan terhadap perundang-undangan nasional. (Foto: Dok. Istimewa)

Sorotan Utama Berita

  • Pertemuan para sekjen partai koalisi memicu spekulasi terkait konsolidasi jangka panjang hingga persiapan Pemilu 2029.
  • Redupnya oposisi di parlemen memperkuat corak demokrasi mayoritarian di Indonesia saat ini.
  • Pemerintah juga tengah menghadapi sorotan publik terkait isu krusial seperti petisi keterwakilan perempuan di Alat Kelengkapan Dewan.

SOROT.IN, JAKARTA — Peta kekuatan politik nasional kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik menyusul berbagai dinamika yang terjadi di Senayan. Sejumlah pengamat politik mulai menakar sejauh mana sisa pengaruh mantan Presiden Joko Widodo masih membayangi konfigurasi kekuatan di parlemen saat ini, terutama di tengah solidnya barisan partai pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.

Aktivitas politik belakang ini kian intensif, terbukti dari pertemuan para sekretaris jenderal partai politik koalisi pemerintah. Agenda tersebut tidak hanya membahas sinkronisasi program legislasi nasional, tetapi juga memantik spekulasi publik mengenai konsolidasi RUU Pemilu serta langkah strategis menghadapi kontestasi politik di masa depan.

Menguatnya Demokrasi Mayoritarian dan Tantangan Oposisi

Di sisi lain, komposisi parlemen saat ini memperlihatkan fenomena redupnya kekuatan oposisi secara signifikan. Kehadiran hampir seluruh kekuatan parpol besar di dalam gerbong kekuasaan menciptakan corak demokrasi mayoritarian murni, di mana mekanisme kontrol dari legislatif terhadap eksekutif berpotensi berjalan kurang optimal tanpa adanya penyeimbang yang kuat.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan akademisi dan masyarakat sipil. Ketika mayoritas suara partai politik terkonsentrasi di lingkaran pemerintah, fungsi pengawasan parlemen dituntut untuk bekerja secara lebih objektif demi menjaga kualitas check and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Isu Krusial Keterwakilan Perempuan di Parlemen

Selain urusan koalisi dan peta kekuatan partai, perhatian publik juga tertuju pada respons pemerintah terhadap berbagai petisi hukum, termasuk tuntutan mengenai keterwakilan perempuan dalam Alat Kelengkapan Dewan (AKD) DPR. Kebijakan afirmatif ini menjadi ujian penting bagi komitmen parpol dalam mengakomodasi keadilan gender di pusat kekuasaan.

Secara keseluruhan, kalkulasi kekuatan politik di parlemen hari ini bukan sekadar soal pembagian kursi kekuasaan semata. Publik tentu berharap agar seluruh dinamika elite tersebut tetap bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat serta penguatan substansi demokrasi yang inklusif dan akuntabel.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Mengapa kekuatan politik Jokowi di parlemen masih sering dibahas?

Hal ini karena pengaruh jejaring politik dan dukungan basis masa yang dibangun selama dua periode kepemimpinannya masih dirasakan dalam konstelasi partai politik saat ini.

Apa dampak dari minimnya oposisi di parlemen bagi demokrasi Indonesia?

Minimnya oposisi dapat membuat fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah menjadi lemah, sehingga peran masyarakat sipil dan media sangat diperlukan sebagai penyeimbang.

TOPIK:#Joko Widodo#Parlemen#Koalisi Partai#DPR RI#Politik Indonesia
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Menakar Kekuatan Politik Jokowi di Parlemen: Sisa Pengaruh dan Peta Koalisi | Sorot.in