LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Penjurusan SMA Kembali Diberlakukan, Pakar UB Sebut Sistem Pendidikan Tanpa Arah

D
Dewi Lestari
Redaktur Pendidikan & Edukasi
Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB•3 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Penjurusan SMA Kembali Diberlakukan, Pakar UB Sebut Sistem Pendidikan Tanpa Arah
Dokumentasi peliputan terkait Penjurusan SMA Kembali Diberlakukan, Pakar UB Sebut Sistem Pendidikan Tanpa Arah. (Foto: Wikimedia Commons)

Sorotan Utama Berita

  • Pakar Universitas Brawijaya menilai kembalinya penjurusan SMA menimbulkan kesan sistem pendidikan nasional yang tidak konsisten.
  • Perubahan kebijakan yang terlalu sering dinilai membingungkan para guru, siswa, dan orang tua murid di lapangan.
  • Dunia pendidikan mendambakan cetak biru kurikulum jangka panjang yang stabil demi masa depan peserta didik.

SOROT.IN, JAKARTA — Dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada dinamika kebijakan yang memancing perdebatan publik setelah wacana penjurusan SMA diputuskan untuk diberlakukan kembali. Keputusan ini sontak menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk para pengamat dan akademisi dari perguruan tinggi negeri ternama di tanah air.

Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan dari Universitas Brawijaya (UB) secara terbuka melontarkan kritik konstruktif. Menurutnya, bongkar-pasang kebijakan kurikulum yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir justru memunculkan kesan mendalam bahwa sistem pendidikan nasional berjalan tanpa arah yang jelas.

Polemik Kebijakan Kurikulum yang Dianggap Sering Berubah

Pergantian kebijakan dari Kurikulum Merdeka yang menghapus penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa, kini kembali melirik sistem peminatan bagi siswa tingkat menengah atas. Ketidakkonsistenan ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada kesiapan mental siswa, tetapi juga memaksa sekolah untuk terus beradaptasi secara mendadak terhadap administrasi dan metode pengajaran yang baru.

Banyak pihak menilai bahwa transisi kebijakan yang terlalu cepat sering kali minim evaluasi komprehensif di tingkat akar rumput. Guru sebagai garda terdepan kerap kali menjadi pihak yang paling kewalahan menyesuaikan perangkat pembelajaran, mulai dari pelatihan hingga penyusunan materi spesifik untuk kelas penjurusan.

Urgensi Cetak Biru Jangka Panjang untuk Masa Depan Siswa

Di tengah era disrupsi teknologi dan persaingan global yang semakin ketat, stabilitas regulasi menjadi kunci utama dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Para ahli mendesak pemerintah agar memiliki cetak biru pendidikan yang matang dan berkelanjutan, sehingga setiap pergantian kepemimpinan menteri tidak serta-merta merombak fondasi belajar siswa.

Masyarakat luas, khususnya para orang tua dan siswa kelas menengah, berharap pemerintah dapat memberikan kepastian hukum dan operasional terkait masa depan jalur akademik mereka. Tanpa arah yang tegas, dunia pendidikan dikhawatirkan kehilangan esensi utamanya dalam memfasilitasi potensi terbaik anak bangsa.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Mengapa penjurusan SMA kembali diterapkan?

Penjurusan SMA kembali diterapkan sebagai bagian dari dinamika penyesuaian kurikulum untuk mengakomodasi kebutuhan kesiapan akademik spesifik siswa menuju jenjang perguruan tinggi.

Apa dampak utama dari seringnya perubahan kebijakan pendidikan?

Perubahan kebijakan yang terlalu sering dikhawatirkan dapat membingungkan siswa, membebani tenaga pengajar dalam hal administrasi, serta menciptakan ketidakpastian dalam jangka panjang.

TOPIK:#Pendidikan#Penjurusan SMA#Universitas Brawijaya#Kurikulum Nasional#Berita Pendidikan
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Penjurusan SMA Kembali Diberlakukan, Pakar UB Sebut Sistem Pendidikan Tanpa Arah | Sorot.in