LIVESenin, 19 Oktober 2026 • Memuat waktu...Jakarta31°C
PASAR REAL-TIME:
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|
IHSG7.842,15+0.68%|
EMAS ANTAMRp2.655.000/gr+1.42%|
USD / IDRRp18.045+0.14%|
EUR / IDRRp20.221+3.64%|
BITCOINRp1.492.370.000+1.28%|

Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran Lewat Persatuan dan Kritik Konstruktif

H
Hendra Wijaya
Redaktur Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB•3 menit baca
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran Lewat Persatuan dan Kritik Konstruktif
Dokumentasi peliputan terkait Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran Lewat Persatuan dan Kritik Konstruktif. (Foto: Wikimedia Commons)

Sorotan Utama Berita

  • Persatuan nasional menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas transisi pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran.
  • Kebijakan ekonomi nasional dan komitmen iklim memerlukan perhatian serius agar tetap selaras dengan target pertumbuhan 6 persen.
  • Kritik konstruktif dari masyarakat dan akademisi berfungsi sebagai kontrol sosial yang sehat demi kemajuan Indonesia.

SOROT.IN, JAKARTA — Dinamika politik Indonesia pasca-pemilu memasuki babak baru yang menuntut kedewasaan berdemokrasi dari seluruh elemen masyarakat. Di tengah berbagai tantangan global yang kompleks, menjaga persatuan nasional menjadi harga mati demi memastikan keberlanjutan pembangunan. Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memikul tanggung jawab besar untuk merangkul seluruh kekuatan bangsa, tanpa terkecuali, guna mewujudkan visi besar Indonesia Emas.

Namun, solidnya persatuan nasional ini harus tetap diiringi dengan fungsi pengawasan yang aktif. Berbagai catatan kritis mengemuka dari para pengamat, termasuk sorotan terhadap kebijakan nasional yang dinilai masih kerap kontradiktif dengan komitmen internasional dalam mengatasi krisis iklim. Di sisi lain, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga tengah memfokuskan strategi fiskal yang matang, di mana pemerintah dengan tegas menyatakan menunggu momentum pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6 persen sebelum memberlakukan kebijakan pajak baru yang berpotensi membebani daya beli masyarakat.

Menyelaraskan Pertumbuhan Ekonomi dan Komitmen Iklim Global

Tantangan terbesar yang dihadapi kabinet saat ini adalah bagaimana merumuskan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan makro, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis. Sejumlah lembaga, termasuk Hukumonline, menyoroti adanya celah regulasi di mana beberapa aturan domestik masih berbenturan dengan kesepakatan iklim internasional. Hal ini menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan Prabowo-Gibran untuk membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur dan industrialisasi tidak mengorbankan kelestarian lingkungan hidup jangka panjang.

Di sektor fiskal, langkah kehati-hatian pemerintah patut diapresiasi. Keputusan untuk menunda penerapan pajak baru hingga pertumbuhan ekonomi menyentuh level 6 persen menunjukkan kepekaan terhadap kondisi riil pelaku usaha dan masyarakat kelas menengah kebawah. Kebijakan ini diharapkan mampu memberikan ruang napas bagi sektor swasta untuk pulih sepenuhnya, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi.

Peran Aktif Masyarakat Melalui Kritik Konstruktif

Membangun sebuah negara besar tidak bisa hanya diserahkan kepada para pejabat di ring utama kekuasaan. Peran masyarakat sipil, media massa, dan kaum intelektual sangat krusial dalam menyampaikan kritik yang objektif, berbasis data, dan membangun. Kritik yang konstruktif bukan berarti membenci atau menghalang-halangi program pemerintah, melainkan sebuah bentuk kecintaan agar setiap kebijakan publik benar-benar tepat sasaran dan berpihak kepada rakyat kecil.

Pada akhirnya, sinergi antara stabilitas politik, kebijakan ekonomi yang pro-rakyat, serta komitmen terhadap kelestarian lingkungan akan menjadi penentu kesuksesan lima tahun ke depan. Dengan mengedepankan dialog terbuka dan semangat gotong royong, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mampu membawa Indonesia melewati berbagai ujian zaman dan berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya di kancah global.

Tanya Jawab Seputar Topik Ini

Mengapa kritik konstruktif penting bagi pemerintahan Prabowo-Gibran?

Kritik konstruktif berfungsi sebagai kontrol sosial yang sehat agar setiap kebijakan pemerintah tetap transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Kapan pemerintah berencana menerapkan kebijakan pajak baru?

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan akan menunggu hingga pertumbuhan ekonomi nasional mencapai angka 6 persen sebelum memberlakukan pajak baru.

TOPIK:#Prabowo-Gibran#Persatuan Nasional#Ekonomi Indonesia#Kritik Konstruktif#Kebijakan Fiskal
BAGIKAN:Posting di XWhatsAppFacebook
Rekomendasi Untuk AndaKonten Bersponsor
Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran Lewat Persatuan dan Kritik Konstruktif | Sorot.in