Gebrakan 1 Tahun Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Ubah Kebijakan Nadiem dan Terapkan Deep Learning

Sorotan Utama Berita
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti melakukan evaluasi dan perubahan signifikan terhadap kebijakan pendidikan era Nadiem Makarim.
- Pemerintah akan menyalurkan bantuan digitalisasi pembelajaran ke 330 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
- Kebijakan Pekerjaan Rumah (PR) diubah total, tidak lagi berupa soal latihan konvensional melainkan bentuk penugasan yang mengasah kreativitas.
SOROT.IN, JAKARTA — Dunia pendidikan Indonesia kembali mengalami dinamika menarik setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memaparkan sejumlah arah kebijakan baru yang menandai perjalanan satu tahun masa jabatannya. Sejumlah regulasi warisan era kepemimpinan sebelumnya di bawah Nadiem Makarim mendapat penyesuaian agar lebih relevan dengan kondisi riil di lapangan serta kebutuhan pedagogis peserta didik saat ini.
Langkah transformatif ini tidak hanya menyasar aspek kurikulum, tetapi juga merambah ke ranah operasional pembelajaran, termasuk metode pengajaran di dalam kelas hingga penanganan tugas rumah bagi siswa. Kebijakan-kebijakan baru ini dirancang sedemikian rupa demi meringankan beban administratif guru sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, dan bermakna bagi jutaan anak Indonesia.
Digitalisasi 330 Ribu Sekolah dan Penerapan Deep Learning
Sebagai wujud nyata pemerataan mutu pendidikan di era digital, Kemendikdasmen mengumumkan rencana besar penyaluran bantuan digitalisasi pembelajaran yang menyasar sekitar 330 ribu sekolah di tanah air. Langkah ini dipadukan dengan penerapan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam, sebuah pendekatan yang bertujuan agar siswa tidak sekadar menghafal materi, melainkan benar-benar memahami esensi dan aplikasi praktis dari ilmu yang dipelajari di sekolah.
Transformasi ini juga didukung oleh pembenahan sistem evaluasi nasional yang dinilai lebih komprehensif. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap sekolah, baik di perkotaan maupun di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), memiliki akses yang setara terhadap perangkat teknologi dan sarana pendukung pembelajaran digital yang memadai demi mencetak generasi masa depan yang kompetitif.
Wajah Baru Pekerjaan Rumah Tanpa Bentuk Soal
Salah satu kebijakan yang paling banyak disorot publik adalah perubahan aturan terkait Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa. Mendikdasmen menegaskan bahwa PR tetap boleh diberikan oleh guru, namun bentuknya tidak boleh lagi berupa pengerjaan soal-soal latihan tertulis yang kerap membebani mental siswa dan orang tua di rumah.
Alih-alih mengerjakan lembar kerja berisi puluhan soal, siswa nantinya akan diarahkan pada penugasan yang bersifat eksploratif, kontekstual, dan membangun karakter. Dengan gebrakan komprehensif ini, Kementerian berharap ekosistem pendidikan nasional mampu melahirkan Profil Pelajar Pancasila yang kreatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global tanpa harus kehilangan esensi kebahagiaan masa anak-anak.
Kebijakan progresif yang digulirkan oleh Mendikdasmen Abdul Mu'ti ini tentu memerlukan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendidik, hingga para orang tua murid. Keberhasilan transformasi sistem pendidikan Indonesia sangat bergantung pada sinergi yang kuat dalam mengawal implementasi di setiap satuan pendidikan.
Tanya Jawab Seputar Topik Ini
Apa saja fokus utama kebijakan Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam satu tahun terakhir?
Fokus utamanya meliputi evaluasi kebijakan kurikulum era sebelumnya, penerapan metode deep learning, digitalisasi untuk 330 ribu sekolah, serta perubahan aturan pemberian PR bagi siswa.
Seperti apa aturan baru mengenai Pekerjaan Rumah (PR) sekolah?
PR tetap diperbolehkan untuk diberikan, namun bentuknya diubah total dan tidak boleh lagi berupa pengerjaan soal-soal latihan konvensional.